Kampung Jogokaryan adalah salah satu kampung prajurit yaitu pasukan Jagakarya yang dibangun oleh Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Kampung ini terletak di luar wilayah keraton, di sisi selatan dan berdekatan dengan kampung Mantrijeron, Prawirotaman, dan Jageran. Nama Jagakarya berasal dari kata jaga yang berarti menjaga dan karya yang bermakna tugas atau pekerjaan. Secara utuh, jagakarya adalah prajurit yang bertugas untuk menjaga dan mengamankan jalannya pemerintahan.

Di dalam wilayah kampung Jogokaryan ini terdapat sebuah masjid yang sangat terkenal bernama Masjid Jogokaryan. Masjid tersebut memegang posisi vital dalam perubahan kultur sosial masyarakat. Dahulu, pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono VIII, terjadi perubahan peran prajurit keraton yang semula prajurit perang menjadi prajurit upacara dan jumlahnya juga dikurangi dari yang semula 750 orang menjadi 75 orang saja sehingga banyak prajurit yang kehilangan pekerjaannya. Keturunan prajurit Jagakarya yang tidak dapat beradaptasi terpaksa menjadi buruh di pabrik tenun dan batik yang didirikan oleh para pendatang. Kesenjangan sosial ekonomi ini dimanfaatkan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) hingga akhirnya ketika G30S PKI Meletus di tahun 1965, banyak warga Jogokaryan yang ditangkap dan dipenjara sebagai tahanan politik. Pada masa itu, Masjid Jogokaryan dibangun sebagai perekat sekaligus pondasi perubahan sosial masyarakat.

Saat ini Masjid Jogokaryan telah dinobatkan sebagai salah satu masjid percontohan nasional yang mampu memadukan pendidikaan keagamaan Islam berbasis komunitas dan kultur sosial-ekonomi masyarakat Jawa JB46.