Tanaman dengan nama latin Ficus benjamina ini memiliki posisi sebagai tanaman kerajaan di dalam Kesultanan Yogyakarta. Sifatnya yang besar dan rimbun melambangkan pengayoman raja kepada rakyatnya. Dari puluhan pohon beringin yang ditanam, beberapa diantaranya bahkan memiliki nama. Di tengah Alun-Alun Utara misalnya, ditanam sepasang beringin dengan nama Kiai Dewadaru dan Kiai Janadaru. Keduanya mengapit sumbu filosofi yang membujur dari utara ke selatan di wilayah Jogja.

Nama Kiai Dewadaru berasal dari kata dewa dan daru sedangkan Kiai Janadaru berasal dari kata jana dan daru. Kata dewa memiliki makna sifat-sifat ketuhanan, jana berarti manusia, sementara daru bermakna cahaya. Makna sederhana dari keduanya adalah “cahaya ketuhanan” dan “cahaya kemanusiaan”. Keduanya melambangkan suatu harmoni yang tercipta dari keseimbangan hubungan serta keserasian sebagaimana konsep luhur masyarakat Jawa yaitu Manunggaling Kawula Gusti. Makna ketuhanan dan kemanusiaan ini yang menjadi landasan penanaman kedua beringin tersebut, antara timur maupun barat dari sumbu filosofi. Kiai Dewadaru yang bermakna “ketuhanan” ditanam di sisi barat, pada sisi yang sama dengan Masjid Gedhe Kauman yang berfungsi sebagai pusat keagamaan.

Di sisi lain, Kiai Janadaru yang berarti “kemanusiaan” ditanam di sisi timur sebagaimana posisi Pasar Berigharjo atau Pasar Gedhe berada yang berfungsi sebagai pusa perekonomian rakyat. Mitosnya, sebagai pusaka kerajaan yang menerima upacara jamasan setiap bulan Sura, kedua beringin ini juga memiliki kisah tersendiri. Konon, bibit Kiai Dewadaru berasal dari Majapahit dan bibit Kiai Janadaru berasal dari Pajajaran. Garis keturunan ini terus dijaga tiap kali ada pohon yang rubuh atau mati. Lebih jauh lagi, dalam ilustrasi sebuah buku populer yang diterbitkan di tahun 2019, digambarkan bahwa keduanya dijaga oleh sepasang jin berwujud naga yang berwarna keemasan JB46.Edit