Perjanjian Giyanti, sebagai permulaan lahirnya Kesultanan Yogyakarta, menjadi sebuah momentum sejarah berkembangnya pembangunan pemukiman di berbagai wilayah Jogja. Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat pun membangun kampung-kampung baik di dalam maupun di luar wilayah keraton. Kampung-kampung tersebut memiliki nama tertentu yang mencerminkan peran dan tugas penghuninya kepada keraton. Salah satu kampung yang terkenal diantaranya adalah Prawirotaman.

Prawirataman merupakan kampung prajurit Prawiratama, salah satu dari sepuluh pasukan keraton yang disebut bregada. Nama Prawiratama berasal dari prawira yang bermakna berani atau perwira an kata tama yang berarti utama dalam Bahasa Sansekerta serta bermakna ahli atau pandai dalam Bahasa Kawi. Sehingga Prawiratama memiliki makna filosofis prajurit yang pemberani dan pandai. Keturunan Trah Prawiratama yang dominan menghuni kampung Prawirotaman hingga saat ini terbagi ke dalam tiga keluarga besar yaitu Werdayaprawira, Suroprawira, dan Mangunprawira.

Pada zaman dahulu, Prawirotaman dikenal sebagai kampung batik. Namun hal tersebut perlahan mulai berubah semenjak dicabutnya subsidi mori dari pemerintah, bergesernya busana tradisional Jawa ke busana modern, dan serbuan batik printing. Saat ini, kampung Prawirotaman lebih terkenal sebagai kampung turis dengan bisnis utama di sektor penginapan karena banyaknya kehadiran pendatang. Di kampung Prawirotaman, terdapat beragam rumah makan yang menyajikan hidangan mediterrania dan menjadi salah satu destinasi favorit turis mancanegara saat liburan ke Jogja JB46.Edit